Humans and Things

anxiety twenties

“I’m afraid of everything. I’ve been reading psychology books to try to figure out why. Logically, I know everything is fine. I know that I’m only twenty, and I have so many blessings and advantages. Yet I’m afraid I haven’t accomplished enough yet. I’m afraid of the future. Afraid of getting older. Afraid of being alone. Afraid of having a child. And afraid of the dark. I’m really, really afraid of the dark.” (Humans of New York)

September is starting slowly for me. There are piles of work, family things, grocery shopping, and things; ini baru minggu pertama. Akhir-akhir ini, saya merasa penuh biarpun sebenarnya saya tidak melakukan apa pun. It’s that moment when “you do so many yet accomplish nothing”. Orang lain tidak tahu dan bisa kita tipu, namun yang paling tahu tentang diri kita adalah diri kita sendiri. There’s anxieties. If I’m not doing good enough, what exactly I am doing with my life now, and whether it’s too late already or not. Chances are, usia saya saat ini belum lagi dua puluh tiga. Di satu sisi, saya merasa “ada masih banyak waktu” tapi juga merasa “tinggal sedikit lagi waktumu”.

That’s normal, though.

Minggu ini saya membaca berita tentang dua artis Korea (K-pop) yang meninggal karena kecelakaan. Saya tidak pernah mendengar lagu mereka dan hanya sekelebat saja. Tetapi membaca berita itu membuat saya jadi diingatkan soal nyawa. Artis-artis itu selama ini hanya saya lihat sebagai sebuah produk, sesuatu yang tahan lama, invinsibel dan akan menghilang dengan normal karena masa tua, bukannya menghilang karena kecelakaan. Mereka juga manusia, dan tak ada yang tahu sampai mana batas usia. Bila berpikir soal itu, rasanya hidup itu pendek, no? Nggak ada gunanya berpikir soal ini lama-lama, sih. :)

Kemarin-kemarin hidup saya hanya berkisar pekerjaan, rumah, dan capek saja. Saya tidak pergi kemana-mana. Minggu ini sepertinya saya akan keluar karena butuh penyegaran. Well, let’s see apakah niat ini bisa mengalahkan rasa malas… Serius lho. Hari Sabtu bawaannya kepingin tidur terus.

Obrolan tanpa secangkir kopi

Karena sudah lama kita tidak mengobrol.

Kadang aku mau duduk berhadapan dan dapat menatap wajahmu, bertanya kalau memang ini yang kamu inginkan untuk kami semua. Kadang aku ingin bertemu langsung dan menggenggam tanganmu, lalu menjerit sekuat tenaga kalau aku tidak bisa. Ada banyak perubahan dan ada banyak juga yang tetap. Rumah ini rumahmu, dan masih sama seperti dulu. Kami masih di sini berjalan dan tumbuh, sementara kamu tetap berada pada usia empat puluh satu. Masih jauh usiaku untuk mencapai usiamu, masih jauh aku harus menghadapi sampai mungkin aku bisa lebih sabar untuk menghadapi semua itu.

Tapi kadang aku mau berteriak.

Kamu tidak akan pernah menghadapi anak perempuan berusia delapan belas sembilan belas dan dua puluh; kamu tidak akan pernah menghadapi anak lelaki dua belas tiga belas dan empat belas. Kamu licik karena melaju lebih dulu ke garis finish, meninggalkan kami semua kelompok estafet yang masih harus membawa tongkat yang kamu tinggalkan. Aku memegangnya dengan gagu, melangkah ragu-ragu, dan terus menerus bertanya sambil berjalan: kalau kamu tidak pergi duluan, kira-kira apa yang akan kau lakukan?

Aku baca banyak hal-hal ideal. Aku baca banyak “bagaimana seharusnya”. Aku tidak ingat apa pun dan aku merutuk diri sendiri karena tidak pernah memikirkannya sebelumnya. Tapi tidak, belaku, karena aku masih remaja. Aku bukan orang tua, sekarang pun tidak, aku tak punya teman hidup untuk berbagi asa dan aku belum pernah menggendong bayi yang lalu kubesarkan sejak lahirnya. Aku berharap seharusnya ini berjalan dengan seharusnya, bukannya meneruskan apa yang terputus di tengah jalan. Aku tidak tahu caramu jalanmu dan bagaimana cara aku menghadapi semua? Kamu licik karena kamu mulai dari usia dua puluh lima dan bukannya enam belas; kamu licik karena mengakhiri begitu saja setelah enam belas tahun sementara aku yang harus melanjutkan tanpa melewati level pemula. Aku terseok-seok.

Seperti sekarang ketika aku merasa gagal dan bodoh, karena kesabaranku tidak ada lagi dan kepalaku diisi rasa tidak mengerti. Tidak mengerti dengan orang-orang ini, yang ada di sekitarku. Harus dengan cara apa aku memandang, harus dengan cara apa aku bersikap. Selamanya aku tidak akan pernah bisa menjadi penggantimu, selamanya juga aku harus menyamakan langkah untuk menggantikan kamu, dan perasaan ini sangat aku benci. Aku harus apa? Tidak ada yang memberitahu. Berdiskusi dengan orang lain seperti nilai nol rasanya bukan karena tidak ingin menghargai, melainkan bahwa aku selalu berpikir ada yang lebih tepat jauh di sana. Bukan orang lain dan bukan mereka. Tidak juga dengan orang orang yang seusia denganmu kalau kau sempat merasakan usia itu.

Tidak akan ada.

Hari ini, napasku sesak sendiri dan aku berkaca, berharap bisa menemukan jawabannya. Tapi tidak ada jua karena sebenarnya sudah ada di dalam diriku semua. Karena buat apa aku bertanya padamu, orang yang tidak pernah mengalami hal seperti ini karena keburu memberikan tongkat estafetmu padaku. Tapi tidak juga; aku tidak bisa benci kamu.

Tidak ketika semua kemarahan ini pada akhirnya berujung rindu.

Goals for September

shots from my neighborhood.

Tanpa terasa sudah sebulan saya nggak nulis-nulis di sini, well tepatnya sebulan lebih. Setiap kali nulis pasti agak lama ya, jaraknya lumayan juga. Ied sudah lewat, mudik-mudik juga sudah berlalu, and tbh I’ve been back to my usual days in office. Berhubung ini akhir bulan dan sudah dekat gajian, ada baiknya saya nyoba nyoba mereview apdet hidup (lah) sebulan terakhir dan memasang target bulan depan.

1. Dad gets a cat! Setelah berdebat dengan seluruh penghuni rumah yang sebenarnya sudah nggak mau punya peliharaan lagi (ya, hanya saya dan adik perempuan saya sih, dan rumah hanya berisi empat orang, afterall), akhirnya beliau membawa pulang seekor kucing. Kucing yang dibeli dari pet shop, maksudnya. Jenisnya mungkin angora kali ya… warnanya putih, dan dia lebih akrab sama penghuni rumah yang cowok. Ya, mungkin karena dia betina. Tetap reseh sih seperti kucing pada umumnya, tapi bulunya empuuuuk. Soal kucing yang waktu itu, sekarang dia tinggal di rumah tetangga. O semoga hidupmu lebih baik, wahai neighborhood cat.

2. Got a new camera to try on. Kamera keluarga, sebenarnya, and it’s not a luxurious SLR atau lainnya. It’s a Nikon Coolpix 320, and so far I like it. And what makes it better is, we get it for free. :P Ayah saya bukan orang yang gemar berinvestasi dengan kamera karena beliau tidak suka difoto, berbeda dengan Ibu yang seorang wartawan. Dengan demikian, wajar kalau kamera kami sebelumnya hanyalah sebuah Canon Powershot A400 yang sudah menua. Ha, pastinya, gotta snap more photos! (Karena ponsel saya juga sudah butek kameranya, hehe)

3. I miss cooking teribbly :( Awal-awal jadi pekerja saya masih menyempatkan diri memasak ketika pulang kantor, tapi seiring dengan bertambahnya beban kerja dan proyekan, tubuh saya langsung tepar begitu sampai di rumah dan bergelut dengan kemacetan. Seringnya malah ketiduran sebelum pukul sembilan malam. Hehe, payah ya? Ketika saya lagi-lagi membeli makanan jadi untuk penghuni rumah, saya baru sadar deh kalau saya kangen memasak. Masak dengan tenang, memilih bahan dengan tenang, dan bukannya menyiapkan makanan dengan apa yang dibeli asal atau in a rush. I’m not an excellent cook, nor a truly cooking lover, but I miss cooking. Makanya, Sabtu besok saya berencana memasak lagi setelah berapa lama tidak memasak dengan benar. Hiks.

So this is my goals for September:

1. Fix my wardrobe(s)! Setelah mengecek kondisi isi lemari yang edan-edanan memang saya memutuskan kalau kondisi pakaian sehari-hari saya sudah masuk kondisi kritis! Saya memang orangnya malas beli baju (dan saya lulusan kriya tekstil yang notabene belajar fashion. Miris) karena malas mencari yang pas serta harus keluar masuk toko. Bahkan untuk basic pieces pun, saya payah. Seidkit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, maka saya bertekad akan mengisi lemari saya dengan pakaian yang layak bulan depan….

2. Moisture better. Saya nggak terlalu cuek sama skincare kok, tapi memang termasuk malas re-apply. Tapi setelah baca-baca, saya jadi diingatkan lagi soal bahaya sinar UV terhadap kulit. Selain wajah, tangan dan kaki juga tidak boleh luput. Uh, jadi ingat saya suka lupa malas memakai lotion atau pelembap lagi setelah terbasahi air. Lalu saya juga suka absen memakai sunblock hahaha. Padahal situasi ruangan juga kering dan pokoknya nggak kondusif deh. Mumpung masih muda, saya mau rawat kelembapan kulit yang bener ah…. lama-lama ini body lotion di rumah saya lempar juga ke laci kantor. (Hush, beli yang kecilan dong!)

3. Stick to my monthly budget. AHHHH INI SUSAH. Mengingat ada goal saya untuk nomor satu, kayaknya bakal sulit… tapi harus tetap berpikir positif ya. Lalu saya juga berencana untuk mengganti ponsel… ya tabungan masih ngepas sih dan masih bingung juga. Mungkin saya akan membelinya sebagai hadiah ulang tahun untuk diri sendiri. Hehehe. Suka atau tidak, memang ada banyak keterbatasan dengan ponsel yang saya miliki sekarang, dan ya…. to spoil myself once in a while, not bad, right? Sementara ini, saya mencoba membuat batasan, dan soal bisa atau tidaknya saya mencapai gol itu, mari kita lihat bulan depan.

4. Learn about making blogger templates. Ini adalah hal besar buat saya, karena sebelumnya saya hanya terbiasa memodifikasi css class yang sudah ada. Tapi karena saya bekerja di perusahaan IT, mau nggak mau saya juga jadi penasaran banget, pengen beneran bisa. Ada pikiran untuk mengambil course yang ada di kampus, tapi selain waktu, saya juga bermasalah dengan biaya. Karena itu, 2014 ini saya ingin mempelajarinya sendiri dulu. untuk akhir minggu ini. Karena target jangka panjang saya adalah to be a web designer. Hehe.

5. Finish an old writing piece. Saya punya proyek tulisan yang belum selesai, bentuknya cerpen lah, apalah. Kebanyakan di-share di kalangan terbatas atau teman dekat saja. Nah, salah satunya adalah sebuah proyek kolaborasi dan adalah giliran saya untuk menulisnya. Karena satu dan lain hal, saat ini hal itu belum selesai juga. Niat saya, September ini harus selesai. Paling tidak, setiap weekend saya harus menyediakan waktu daripada tidur-tidur ayam. Tapi tidur ayam itu enak, lho…. beneran.

Well, that’s my goals for September. Semuanya adalah hal-hal yang tidak terlalu besar, tapi yang pasti, itu penting buat saya. It’s nice to be back on this blog again and ramble about my ordinary daily, haha. See you later, blog.

Antara saya dan aku

Di antara keduanya, terbentang jarak antara tangan yang menepuk dada dan jemari yang mendekat menyentuh detak jantung, berbisik dan bertanya, yang manakah rambatan jiwa yang mengalir di bawah kulitmu. Yang mana kalimat yang muncul dari bibirmu. Yang mana yang benar-benar suaramu.

Di antaranya, terbentang benang tipis antara kejujuran dan dirimu yang kau bentuk, yang selama ini kau tutupi diam-diam dengan lenganmu. Kadangkala kau bertanya dimana kamu, sudah sempurnakah perjalanan itu, atau kau hanya berputar di dalamnya.

Di antaranya, kamu tersesat dan mencari yang manakah kamu, yang manakah dirimu. Kadang kamu tersesat, kadang kamu merasa terasing di antara dua garis batas yang samar. Lalu kau sadar hari ini, aku adalah aku, dan ketika aku pergi untuk menjadi saya, pada akhirnya aku tetaplah diriku.

Weekend with Solitude

Everything is going on the loop. Hari biasa saya lewatkan dengan berjam-jam di kantor, mengurus proyek yang berputar-putar (kemajuannya sangat perlahan, jadi saya mengurus hal yang hampir mirip setiap hari). Harus pintar-pintar mengatur agar tidak bosan dan tetap produktif. Me-maintain kehidupan agar tidak bosan, jadi sangat penting. Ketika ada di SMA, bahkan universitas, saya selalu merasa ada patokan; agar lulus mata kuliah, agar lulus ke semester berikutnya. Sekarang, saya harus mematok pancang sendiri dan saya merasa mulai terbawa arus.

Senin sampai Jumat pembicaraan terikat hanya tentang pekerjaan dan obrolan di antara mesin fotokopi, scanner, dan giliran mengambil wudhu. Biarpun ada teman dan saya melakukan interaksi sosial yang sehat, seperti bercanda dan lainnya, rasa bosan itu tetap ada. Sabtu kemarin saya bertemu dengan teman-teman lama: biarpun ketika kuliah kami berinteraksi secukupnya–bukan yang sangaat mendalam sehidup semati–but I feel happy to meet them again. Ada suasana yang berbeda. Memang benar, ketika segala hal yang sudah mengikat kebersamaan pertemanan sudah hilang, yang tersisa hanyalah “kolega”. Bertemu dengan teman membuat saya merasa diisi energi lagi.

It’s a nice cycle, though, and I’m having fun with it. Di hari Minggu, saya selalu berusaha agar tidak usah keluar rumah, kalau tidak terpaksa. I need my own day full for myself, I guess.

1. I bought a new book. It’s Murakami’s; Norwegian Wood. Rada telat sih baru baca sekarang, tapi berhubung usia saya sekarang cocok dengan tokoh-tokoh di sini, dan topiknya yang tentang coming of age, gapapa ya. Hahaha. Saya seringkali makan dengan teman yang nominalnya lebih dari lima puluh ribu rupiah; tapi mebeli buku seharga sama kadang saya merasa sayang. Kali ini saya harus lebih rajin beli dan membaca buku. Tapi mesti mikir juga gimana caranya agar tetap bisa menabung. Uang rasanya seperti menguap.

2. Menggambar selalu jadi kegiatan saya setiap hari, setidaknya ketika saya SMA dan kuliah. tapi akhir-akhir ini jarang. Dulu saya kepingin sekali jadi ilustrator, tapi setelah melihat kemampuan saya sekarang, kok kayaknya masih nggak ada apa-apanya. My latest attempt on drawing, people. Harus lebih peka lagi nih. Saya ingin eksplor warna, seperti ilustrasi di atas. Manis.

3. Sambil saya menulis ini, seekor anak kucing tidur dengan tenang di sebelah. Nggak, saya nggak melihara kucing, atau formalnya sih begitu. Sewaktu SMP, kucing peliharaan saya mati terlindas motor yang lewat and I swear I will never keep a pet again. Tapi di awal tahun, seekor kucing melahirkan di rumah saya dan meninggalkan satu anaknya. Setiap kali keluarga kami mengusir, dia datang dan datang lagi–Ayah juga bilang supaya diberi makan saja. Sampai saat ini saya masih berusaha agar tidak terlalu ada emotional attachment; misalnya, saya tidak memberi dia nama. Saya masih suka mengusir, dan lagi, dia termasuk galak. Tapi kenyataan kalau si anak kucing sangat lucu dan bikin saya merasa nyaman, memang tidak bisa dibantah.

Besok adalah Senin, dan hari ini waktunya mengisi tenaga lagi agar bisa menjalani Senin dengan senang. Selamat menikmati hari Minggu.