Kitty Talk

Sudah beberapa bulan terakhir di rumah saya ada kucing. Bukan saya yang membawanya. Itu Ayah saya. Beliau memang sejak dulu punya kebiasaan: kalau sedang kepingin sesuatu akan dilakukan sampai pol-polan. Lalu kemudian akan bosan dan sisa-sisanya dibiarkan begitu saja. Begitu juga untuk masalah hobi. Dari dulu beliau memang suka memelihara sesuatu, baik tanaman maupun hewan.

Sebelumnya, Ayah pernah sangat menggemari kuping gajah dan anthurium. Rumah jadi seperti hutan mini karena Ayah membeli banyaak sekali tanaman: dan itu dilakukan dalam satu hari. Lalu pernah juga suatu kali rumah kami jadi seperti toko ikan… Arwana. Ada tiga ekor ikan arwana yang dipelihara di rumah, masing-masing dalam satu akuarium tersendiri yang cukup besar. Mereka dipelihara sampai tiba akhirnya mereka mati.

Pokoknya, satu kata untuk Ayah kalau beliau sudah punya satu hobi: Berlebihan.

Saya sendiri tidak alergi dengan hewan peliharaan. Sejak kecil saya suka memelihara macam-macam. Cicak, kodok, keong, kucing, paling sering laba-laba. Ukurannya sebesar telapak tangan anak usia tujuh tahun dan ada banyak, dimasukkan ke dalam ember. Lalu saya juga kena wabah memelihara kelomang (?) kumang (?) seperti anak-anak sekolah dasar lainnya. Ibu saya tidak pernah protes. Eh, protes sih, terutama yang laba-laba.

Namun secara formal, saya memang tidak pernah memelihara binatang “betulan.” Yang secara rutin diberi makanan, dibawa ke dokter hewan, atau membeli dari toko. Hewan yang cukup lama saya pelihara adalah kucing betina yang sering ke rumah dan akhirnya “memutuskan” untuk melahirkan anaknya di kardus dalam pojok lemari Ibu. Anak-anaknya lima, sempat diberi makan di rumah sampai cukup besar sebelum akhirnya diberikan ke orang-orang yang mau, dan menyisakan satu ekor. Mereka juga sering menemani saya belajar.

Satu ekor itu mati karena lehernya dilindas motor, tepat di depan rumah. Darahnya berceceran. Sedih sekali waktu dia mati, dan saya mengutuk-ngutuk pengendara motor itu sampai sebal. Sejak itu saya tidak pernah mau memelihara binatang. Saya adalah orang yang paling menentang kalau Ayah mulai kumat membeli hewan macam-macam, ya seperti ikan Arwana itu.

Makanya, tidak heran waktu kucing pertama datang, saya yang paling marah. Ayah sih, seperti biasa cuek, toh rumah juga rumah beliau. Jadilah kucing ini dipelihara di rumah. Saya tidak mau memandikan atau apa pun, memegang juga ogah. Pun kucing betina ini judes dan seenaknya sendiri, saya jadi kesal.

Tapi herannya, memang dasar kucing. Kalau saya buka pintu kamar ketika bangun, kucing ini sudah menunggu di depan pintu dan mengitari kaki minta diberi makan. Dan saya, karena tidak mau berlama-lama dekat dengan dia, jadi saya langsung lari ke dapur dan memberinya makan. Sialnya, dia malah jadi menghafal saya sebagai si tukang pemberi makan. Lagipula dasarnya kucing ini memang lucu. Akhirnya ya saya ajak main juga ala kadarnya. Untung saya jarang ada di rumah juga kecuali hari libur.

Tiga bulan kemudian Ayah membawa kucing kedua. Katanya untuk teman yang kucing pertama. Kali ini jantan, lebih kecil, dan kurus.

Saya tentu saja marah lagi, memasang opsi galak setiap kali si kucing mendekat, dan memasang wajah cemberut permanen setiap kali Ayah melihat. Ayah, tentu saja: bodoamat! Saya kesal. Kucing kotor, bau, bulunya bikin kotor dan repot pemeliharaannya. Tapi tetap saja anak kucing dimana-mana lucu, dan kucing yang ini pun termasuk. Butuh waktu sebulan sampai akhirnya dua ekor kucing di rumah saya bisa akur…. dan eventually, saya juga akur dengan kucing-kucing ini.

Mereka lucu sih. Biarpun menyebalkan dan banyak maunya. Tapi mereka lucu dan lumayan untuk tontonan kalau bosan.

Yang saya takutkan adalah kalau mereka mati atau hilang. Saya pasti sedih. Saya pasti panik. Setiap memikirkan kemungkinan akan terjadinya hal itu, saya pasti jadi muram. Biarpun memang, ada kesenangan karena “kenal” dua makhluk ini. Tetapi tetap saja saya seringkali menyesal sudah kenal dan main-main dengan mereka. Soalnya, bagaimana kalau nanti mereka hilang atau mati?

Sementara ini, saya tidak mau itu terjadi.


(photo source: moi instagram)

The Ghost named Phonecall

Saya masih ingat waktu dibangunkan oleh bunyi telepon pukul empat pagi. Kaki mengendap-endap karena tidak mau membangunkan orang. Nenek dan kakek yang menginap di kamar belakang perlahan keluar dengan pandangan bertanya-tanya. Kamar tempat saya tidur ada di lantai dua; dan biasanya saya tidak akan mendengar bunyi telepon atau telepon itu sudah diangkat Ayah dan Ibu, begitu saya sadar.

Adik-adik saya masih tidur di kasur. Malam itu saya tidur di kamar orang tua; Ayah dan Ibu saya berada di rumah sakit sejak dua hari yang lalu. Kondisi Ibu menurun dan Ayah menemani beliau. Karena empat tahun terakhir kehidupan generik adalah rumah dan rumah sakit, saya tidak terlalu memperhatikan. Telepon dari siapa pukul segini? Jam yang aneh untuk menelepon. Suara di sana berisik dan tidak jelas. Dari rumah sakit.

“Neng, Ibu ngantunkeun.”*

Kepala saya pusing dan telepon langsung diambil Kakek. Beberapa menit berikutnya beliau menendang kursi dan berteriak-teriak. Saya membangunkan adik-adik saya dan mengirim pesan kepada semua teman. Tangan saya gemetaran dan tidak bisa langsung meregister info yang baru saja disampaikan lewat sambungan kabel.

Itu pertama kalinya saya menerima telepon dengan berita buruk.

***

Saya pernah membaca di majalah kalau tidak semua “ketakutan pada suatu hal” disebut dengan fobia. Yang mengalami takut berlebih hingga mengganggu kehidupan sehari-hari, baru itu disebut dengan fobia. Saya sendiri tidak ingin mengasosiasikan diri sendiri sebagai orang yang “fobia” telepon. Setiap kali, saya hanya bilang, “saya takut dengan bunyi telepon”. Entah sejak kapan setiap kali telepon berdering saya langsung beku di tempat dan berteriak menyuruh siapa pun yang terdekat untuk mengangkat. Biasanya adik saya yang kena getahnya. Kadang saya sendiri yang mengangkat, dengan terpaksa, sambil memasang telinga dengan waspada entah untuk apa. Saya menyembunyikan ponsel di bawah selimut setiap kali ada nomor tak dikenal. Lalu saya lari sejauh-jauhnya.

Berlebihan kalau saya bilang, “trauma mengangkat telepon” setelah kejadian dulu itu. Memang tidak. Itu hanya satu kejadian kecil dan saya juga menjalani hidup seperti biasa. Bukankah masa itu belum ada line, whatsapp, dan sejenisnya–sehingga komunikasi masih lebih sering menggunakan telepon dan SMS. Kehidupan teleponi saya relatif normal sampai tahun 2010-2011.

Bila “berkali-kali” adalah alasannya, kira-kira seperti itu.

Kala itu saya punya kenalan. Teror telepon dan semacamnya datang sepanjang tahun itu. Tapi saya ngotot tidak mau mengganti nomor karena nomor ponsel itu sudah lama sekali saya pakai. Terlebih saya bertemu dengan orangnya juga. Intinya ketakutan itu bertumpuk dari situ. Saya tidak pernah menyimpan nomornya karena takut. Tapi dengan itu pun saya hafal digit-digit akhir nomornya. Saya membiarkan ponsel tenggelam di dalam tas. Saya menghapus SMS tanpa melihat isinya. Saya takut bertemu orangnya, sudah pasti.(TBH, saya di ambang kebingungan sampai mana bisa menyebut itu “rasa peduli yang terlalu banyak” atau “pelecehan seksual”. Can’t talk much about it though. It ended already.)

Saya tidak mengatakan apa pun kepada orang tua. Ayah sibuk dan menurut saya tidak akan memperhatikan terlalu banyak; saya hafal cara beliau. Karena itu saya diam. Teror berlanjut sampai setahun berikutnya, ketika satu hari telepon bisa berdering lima belas kali. Saya takut. Saya tidak mau mendengar telepon. Semua yang akan terdengar di telinga saya adalah hal-hal yang menakutkan, mengerikan, atau menjijikkan. Semua nomor. Di tahun-tahun itu saya mendapat beasiswa dan ada beberapa kali nomor tidak dikenal yang menelepon. Saya mengangkat dengan perasaan takut setengah mati; dan ternyata itu hanya konfirmasi data untuk penerimaan dana.

Kejadian lainnya adalah telepon penipuan. Tahu kan telepon yang bilang anggota keluarga kecelakaan, atau ditangkap polisi? Saya menerima telepon tersebut tiga kali. Sebelumnya saya tidak pernah mengira akan mendapatkan telepon semacam itu.

Yang pertama kali mengatakan adik saya kecelakaan dan kritis dengan luka di bagian kepala. Bila tidak pernah ada apa-apa, tentu saya akan tenang saja dan mengasosiasikannya dengan penipuan. Tapi pikiran saya langsung terasosiasi dengan berita lama yang pernah saya terima. Langsung saya berteriak, minta tolong Ayah yang kebetulan ada di rumah. Ayah membentak di telepon, berteriak “dasar tukang tipu!” dan membantingnya. Saya berjongkok di dekat meja makan, tidak mau dengar. Menutup telinga. Tubuh gemetaran dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Dua telepon penipuan lagi dan saya sudah bisa bereaksi lebih baik sekarang, langsung menuduh penipu biarpun saya masih takut mendapat telepon semacam itu. Tapi memori itu membekas. Setiap kali telepon berbunyi saya tidak bisa menganggap hal itu adalah hal yang menyenangkan. Gangguan. Saya bertengkar dengan adik karena saya tidak pernah mau mengangkat telepon. Saya pernah hampir menangis karena ada teman yang memberi info yang–seharusnya seru–tapi saya mengidentifikasinya dengan sesuatu yang tidak menyenangkan sehingga saya marah. Saya mengangkat telepon dengan waspada, tubuh tegak dan mata nanar dan jantung berdegup kencang. Setiap kali satu percakapan selesai saya menarik nafas lega: terima kasih karena bukan hal yang macam-macam.

Tahun berikutnya, saya dilanda gangguan setiap kali selesai melakukan percakapan–karena sungguh, tidak pernah ada berita yang benar-benar buruk setelah itu. Saya hanya menerima telepon biasa, obrolan seru, dan semacamnya. Faktanya adalah saya takut pada hal yang tidak ada, dan saya benci itu. Saya marah pada diri saya sendiri. Untuk apa saya merasa takut? Saya tahu takut pada hal-hal tersebut adalah sesuatu yang konyol. Dan itu berarti saya konyol. Benar, saya pantas ditertawakan! Saya benci diri saya yang pantas ditertawakan, ketakutan karena hal-hal bodoh dan sederhana semacam bunyi telepon.

Tanpa sadar, hal ini menjadi satu faktor yang membuat kepercayaan diri saya menurun.

Sampai sekarang, saya tidak pernah berani menuliskan tulisan di atas. Biarpun saya punya blog bertahun-tahun, biarpun saya punya yang namanya “jurnal” di mana saya bisa menulis apa yang saya suka. Saya tidak pernah menuliskannya. Hanya menulis di dalam hati dan mengingatnya dalam kepala, dan ingatan buruk itu selalu tumpah lagi setiap kali telepon berdering. Hanya menyimpannya dan tidak berani mengungkapkannya pada siapa pun. Baru tahun 2013 saya berani bercerita kepada teman dekat. Karena saya merasa malu. Takut karena ini aneh dan ada beberapa hal yang sungguh memalukan. (You know those feelings when you feel guilty yet logically you know that you’re not guilty at all.)

Yang membuat saya berani adalah hal random. Serandom dan sesederhana #20factsaboutme di instagram. Saya mendapatkan tag dari beberapa teman dan memutuskan untuk melakukannya di waktu kosong. Hal sederhana seperti itu. Maka saya menulis, “I’m afraid of phonecalls.” Di saat yang bersamaan ketika saya meneruskan ketikan itu ke bawah, ada suara yang berkata, “it’s weird, but it’s okay.” Dan tulisan itu berlanjut sampai bawah, berselang-seling dengan fakta lain. Hal sesederhana itu.

Cerita lainnya mungkin nanti. Tapi untuk sekarang, I feel good. I feel so much better. Mungkin sampai nanti, tidak akan ada ending. Tidak akan ada penutup bahwa saya akan lupa dengan hal-hal yang berkaitan itu. Tapi paling tidak dengan menulisnya saya merasa meninggalkan hal tersebut di sini. Bisa saya simpan di tempat lain dan tak harus menyimpannya di kepala, mengingatnya setiap kali telepon berbunyi.

I’ll leave it here.

*Ibu ngantunkeun: Ibu meninggal. Arti literalnya adalah “Ibu meninggalkan”.

wake me up when october comes

…and Hello October!

Bulan yang biasa saja berlalu kembali bagi saya, dan tak terasa sudah mendekati akhir tahun, haha. Mari bahas apa yang terjadi sebulan kemarin dan apa yang saya targetkan untuk bulan Oktober ini….

1. Bulan September kemarin saya cukup sering menderita flu. Mengapa sering? Karena hilang timbul. Seminggu meler, lalu hilang. Lalu batuk batuk parah sampai harus pakai masker, lalu hilang lagi. Sayanya juga sih yang bandel, tidak memikirkan makanan sekali pun sudah mau sakit. Akhirnya kemarin sempat tepar setelah diboyong ke luar kota dua hari dan tidak bisa masuk kantor. Untungnya sekarang saya sudah kembali sehat. Tapi kemarin saya makan seblak super pedas dan es super dingin, jadinya amandel membengkak, hehehe….

2. Nenek saya dari pihak Ayah meninggal dunia. Usianya 84. I have mixed feelings about this. Beliau sudah lama menderita lumpuh di bagian kaki, dan beberapa bulan terakhir, kondisinya memang terus menurun. Beliau sudah pikun. Setiap kali saya bicara dengan beliau, saya seperti harus berkenalan lagi karena beliau lupa siapa saya (biarpun kalau diceritakan soal Ibu saya beliau ingat persis. Weird, isn’t it?). Seringkali saya berpikir, apakah beliau juga merasa terbang dalam dunia yang tidak ia kenal, dan mempertanyakan ke mana orang-orang yang dulu ia kenal?

Hingga jelang terakhir kali, yang beliau sering igaukan adalah kehidupan sehari-harinya yang dulu, sewaktu masih lincah sebagai petani dan pedagang. Mungkin beliau bingung mengapa orang-orang tidak bisa ia kenali, mengapa ia tidak bisa pergi ke tempat yang ia inginkan, mengapa ia tidak bisa bergerak. Simply speaking, saya tidak merasa sedih. Saya merasa memang tempat terbaik untuk beliau adalah di sisi-Nya.Yang paling mengingatnya hingga memanggilnya sekarang.

Tetapi ketika saya ingat tangan beliau yang dulu sering membuatkan pakaian untuk saya dan saudara-saudara perempuan saya, kamarnya yang jadi tempat bermain saya sewaktu kecil dan laci lemarinya yang berisi banyak harta karun; barang-barang khas nenek-nenek, kalimat-kalimatnya dalam bahasa sunda biarpun dulu saya tidak bisa berbahsa sunda, barulah saya sedih sampai ingin menangis.

It feels like I’ve lost her since forever. I held back my tears, though.

3. Teman saya yang kemarin menikah hamil! Dan satu teman kecil saya bertunangan. Wow, such an event! Satu lagi teman saya menikah minggu depan. Soalnya sedang bulan Zulhijjah. Soal teman kecil, di jalan tempat saya tinggal, ada empat perempuan seusia saya dan teman saya itu yang lebih dulu lamaran. Ketika menghadiri acaranya, tentu saja pertanyaan ibu-ibu adalah siapa yang akan jadi juara kedua. Karena umur kami semua berdempetan sih, hanya beda beberapa bulan, hahahaha. We’ll see. Sepertinya pertanyaan ini masih akan berputar di sekitar saya sampai menikah beneran. Regardless, I’m really happy for her. Uh, terharu lho rasanya.

4. Lalu tentang September goals! Bulan kemarin saya membuat daftar untuk dilakukan di bulan September. Saya melakukannya dengan baik… dan tidak dengan baik? Ahaha. Saya membeli innerwear untuk lemari, jadi paling tidak kebutuhan dasar sudah terpenuhi. Sayangnya sepatu yang kemarin saya beli terlalu kecil, jadi berakhir di kaki adik deh. Berikutnya target saya mungkin barang-barang di atas. There’s Birkin bag yang harganya sama dengan satu unit rumah sederhana, tapi itu hanya referensi model dan warna kok. Tangan saya juga lebih lembap sekarang, terima kasih untuk lotion di laci meja kantor. Lalu tulisan saya belum selesai, dan mempelajari blogger templates sepertinya masih butuh waktu lama….

Karena itu, ini daftar capaian saya untuk bulan Oktober.

1. (Masih) mempelajari Blogger templates. Saya sudah membaca bahannya dan seriusan, saya pusing. Proyek yang kemarin saya tangani menggunakan wordpress dan jadinya saya membagi dua otak saya untuk belajar. Blogger lebih sulit buat saya karena harus ditangani manual ya, tidak bisa instan. Di sisi lain, mempelajari hal yang dasar membuat saya bisa lebih mengerti secara konsep. Selain membaca bahan, saya juga sudah membuat test blog dan sejauh ini masih carut marut. Kalau sudah jadi bagus, sepertinya saya akan pindahan lagi dari wordpress ke blogspot (hahaha). Tapi masih entah kapan. Bulan ini saya mau bikin konsep templatenya dulu sambil belajar elemen-elemennya yang bikin pusing ini. Subhanallah, saya bener-bener ga ngerti XML maupun javascript. Liat kodenya juga pusing.

2. (Masih) menulis. I should stick into the plan. Nulis jadwal dan to do list tak ada gunanya kalau kita tidak menyediakan waktu, don’t you think so? Saya lebih sering pulang dan beralasan ngantuk, lalu akhirnya hanya menulis sedikit. Sejauh ini masih kurang dari 3.000 kata. Biarpun ini proyek pribadi (hanya dibagi ke beberapa orang), gemes juga nggak sih… saya akan mencoba bangun lebih pagi supaya sempat menulis dengan segar. Which means saya tidak boleh tidur larut. Uh oh.

3. Mendapatkan kemeja dan jilbab dengan motif yang bagus. Ketika sadar yang kurang dari pakaian saya adalah motif; dan wow, sebagai pengguna kerudung saya kaget sendiri karena koleksi saya hanya warna polos dan itu pun warnanya itu lagi dan itu lagi. Memang harus menyediakan waktu sih, dan alasan utamanya lagi-lagi sama: malas! Bulan ini harus dapat itu kerudung yang motifnya bagus. Modal buat datang ke pernikahan, nih. Hehe.

4. Bikin ilustrasi. Di luar pekerjaan. Mau yang bagus, mau yang jelek. Mau yang hitam putih, mau yang full color. Saya mau menggambar, saya mau menulis, tapi nyatanya saya terlalu malas karena hanya diomongkan saja sampai harus membuat statemen dan target pasti: Oktober! Dalih kesibukan sering membuat saya malas, malas, menunda, dan merasa waktu yang tersisa lebih baik untuk istirahat. Memang begitu, tapi ada yang lebih penting: accomplishment. Hidup sepertinya memang harus terbagi menjadi kerja, istirahat, dan accomplishment… well. Akan dimulai dengan seminggu sekali. Kalau gaul sih setiap hari, tapi ya pelan pelan aja dulu.

That’s my goal for October. Semoga semuanya berjalan dengan baik. Until next time!

When Life Gets Rough

by Margot Gabel via Pony Anarchy Magazine

by Margot Gabel via Pony Anarchy Magazine

Work has been exhausting for me. Every day I went home with jumble rumble things on my mind and how I can finish this task and oh why I’m doing this and I’m working for what. It seems a bit overboard now but it’s relatable really. I got my work being revised and revised and revised and it’s not even about the design. Every day I went home thinking “aw, I just have at least three hours until bedtime today” (and there are dishes to do, rice to cook, dinner to buy, etc). I can still laughing but there’s a void and I’m constantly being angered and sad. Blame my hormones maybe. I went to bed tired and waking up without any energy.

Then I’m back to this little blog of mine, where I can vent and write anything I like. As I am writing this, I’m feeling better. It’s weird, because it doesn’t even solve the problem. I just write nonsensical things and I’m feeling okay because have been writing this. Weird things writing does to you, isn’t it?

Though, seems like I always vent about my work at some point. At least some days when it’s really busy in a month. It’s normal, apparently, but I should change my perspective b/c still it’s not good for a long run, right. There are still many opportunities for me, and I still have many things to do. Regardless some things, I kind of still happy here. Let’s map this messy life again and embrace things.

So.

THIIIIIIIIIIIIINGS TO TRY THIS WEEKEND BECAUSE I CAN.

  • Wandering around looking for some non-artificial green scenery
  • But Bandung is a heeeeellll on weekend because so many people being bored in weekdays like I do and want to do happy things like I do
  • But I want green sceneries
  • And capturing it on a camera
  • And writing in an empty place with just some good books and music
  • With a fuzzy chilly weather
  • Seems like a place suitable for your tumblr homepage
  • What I am writing right now doesn’t make sense
  • And leave the grammar alone
  • But really. I need green sceneries and good books and music and weather and and and
  • And.

Still, nonsensical, isn’t it? Because deep deep deep in my heart, sometimes I just want to back to my childhood and gets a hug. Well, that’s normal. Life’s good, afterall!

Humans and Things

anxiety twenties

“I’m afraid of everything. I’ve been reading psychology books to try to figure out why. Logically, I know everything is fine. I know that I’m only twenty, and I have so many blessings and advantages. Yet I’m afraid I haven’t accomplished enough yet. I’m afraid of the future. Afraid of getting older. Afraid of being alone. Afraid of having a child. And afraid of the dark. I’m really, really afraid of the dark.” (Humans of New York)

September is starting slowly for me. There are piles of work, family things, grocery shopping, and things; ini baru minggu pertama. Akhir-akhir ini, saya merasa penuh biarpun sebenarnya saya tidak melakukan apa pun. It’s that moment when “you do so many yet accomplish nothing”. Orang lain tidak tahu dan bisa kita tipu, namun yang paling tahu tentang diri kita adalah diri kita sendiri. There’s anxieties. If I’m not doing good enough, what exactly I am doing with my life now, and whether it’s too late already or not. Chances are, usia saya saat ini belum lagi dua puluh tiga. Di satu sisi, saya merasa “ada masih banyak waktu” tapi juga merasa “tinggal sedikit lagi waktumu”.

That’s normal, though.

Minggu ini saya membaca berita tentang dua artis Korea (K-pop) yang meninggal karena kecelakaan. Saya tidak pernah mendengar lagu mereka dan hanya sekelebat saja. Tetapi membaca berita itu membuat saya jadi diingatkan soal nyawa. Artis-artis itu selama ini hanya saya lihat sebagai sebuah produk, sesuatu yang tahan lama, invinsibel dan akan menghilang dengan normal karena masa tua, bukannya menghilang karena kecelakaan. Mereka juga manusia, dan tak ada yang tahu sampai mana batas usia. Bila berpikir soal itu, rasanya hidup itu pendek, no? Nggak ada gunanya berpikir soal ini lama-lama, sih. :)

Kemarin-kemarin hidup saya hanya berkisar pekerjaan, rumah, dan capek saja. Saya tidak pergi kemana-mana. Minggu ini sepertinya saya akan keluar karena butuh penyegaran. Well, let’s see apakah niat ini bisa mengalahkan rasa malas… Serius lho. Hari Sabtu bawaannya kepingin tidur terus.