Antara saya dan aku

Di antara keduanya, terbentang jarak antara tangan yang menepuk dada dan jemari yang mendekat menyentuh detak jantung, berbisik dan bertanya, yang manakah rambatan jiwa yang mengalir di bawah kulitmu. Yang mana kalimat yang muncul dari bibirmu. Yang mana yang benar-benar suaramu.

Di antaranya, terbentang benang tipis antara kejujuran dan dirimu yang kau bentuk, yang selama ini kau tutupi diam-diam dengan lenganmu. Kadangkala kau bertanya dimana kamu, sudah sempurnakah perjalanan itu, atau kau hanya berputar di dalamnya.

Di antaranya, kamu tersesat dan mencari yang manakah kamu, yang manakah dirimu. Kadang kamu tersesat, kadang kamu merasa terasing di antara dua garis batas yang samar. Lalu kau sadar hari ini, aku adalah aku, dan ketika aku pergi untuk menjadi saya, pada akhirnya aku tetaplah diriku.

Weekend with Solitude

Everything is going on the loop. Hari biasa saya lewatkan dengan berjam-jam di kantor, mengurus proyek yang berputar-putar (kemajuannya sangat perlahan, jadi saya mengurus hal yang hampir mirip setiap hari). Harus pintar-pintar mengatur agar tidak bosan dan tetap produktif. Me-maintain kehidupan agar tidak bosan, jadi sangat penting. Ketika ada di SMA, bahkan universitas, saya selalu merasa ada patokan; agar lulus mata kuliah, agar lulus ke semester berikutnya. Sekarang, saya harus mematok pancang sendiri dan saya merasa mulai terbawa arus.

Senin sampai Jumat pembicaraan terikat hanya tentang pekerjaan dan obrolan di antara mesin fotokopi, scanner, dan giliran mengambil wudhu. Biarpun ada teman dan saya melakukan interaksi sosial yang sehat, seperti bercanda dan lainnya, rasa bosan itu tetap ada. Sabtu kemarin saya bertemu dengan teman-teman lama: biarpun ketika kuliah kami berinteraksi secukupnya–bukan yang sangaat mendalam sehidup semati–but I feel happy to meet them again. Ada suasana yang berbeda. Memang benar, ketika segala hal yang sudah mengikat kebersamaan pertemanan sudah hilang, yang tersisa hanyalah “kolega”. Bertemu dengan teman membuat saya merasa diisi energi lagi.

It’s a nice cycle, though, and I’m having fun with it. Di hari Minggu, saya selalu berusaha agar tidak usah keluar rumah, kalau tidak terpaksa. I need my own day full for myself, I guess.

1. I bought a new book. It’s Murakami’s; Norwegian Wood. Rada telat sih baru baca sekarang, tapi berhubung usia saya sekarang cocok dengan tokoh-tokoh di sini, dan topiknya yang tentang coming of age, gapapa ya. Hahaha. Saya seringkali makan dengan teman yang nominalnya lebih dari lima puluh ribu rupiah; tapi mebeli buku seharga sama kadang saya merasa sayang. Kali ini saya harus lebih rajin beli dan membaca buku. Tapi mesti mikir juga gimana caranya agar tetap bisa menabung. Uang rasanya seperti menguap.

2. Menggambar selalu jadi kegiatan saya setiap hari, setidaknya ketika saya SMA dan kuliah. tapi akhir-akhir ini jarang. Dulu saya kepingin sekali jadi ilustrator, tapi setelah melihat kemampuan saya sekarang, kok kayaknya masih nggak ada apa-apanya. My latest attempt on drawing, people. Harus lebih peka lagi nih. Saya ingin eksplor warna, seperti ilustrasi di atas. Manis.

3. Sambil saya menulis ini, seekor anak kucing tidur dengan tenang di sebelah. Nggak, saya nggak melihara kucing, atau formalnya sih begitu. Sewaktu SMP, kucing peliharaan saya mati terlindas motor yang lewat and I swear I will never keep a pet again. Tapi di awal tahun, seekor kucing melahirkan di rumah saya dan meninggalkan satu anaknya. Setiap kali keluarga kami mengusir, dia datang dan datang lagi–Ayah juga bilang supaya diberi makan saja. Sampai saat ini saya masih berusaha agar tidak terlalu ada emotional attachment; misalnya, saya tidak memberi dia nama. Saya masih suka mengusir, dan lagi, dia termasuk galak. Tapi kenyataan kalau si anak kucing sangat lucu dan bikin saya merasa nyaman, memang tidak bisa dibantah.

Besok adalah Senin, dan hari ini waktunya mengisi tenaga lagi agar bisa menjalani Senin dengan senang. Selamat menikmati hari Minggu.

Moodboard: Deep Water

moodboard-bluegreen

Minggu ini diisi dengan kesibukan yang tidak terlalu sibuk, tapi bisa dibilang sibuk. Ada beberapa proyek di tangan (alhamdulillah), tapi juga melibatkan hal yang baru pertama kali saya sentuh. Yah, wajar sih, mengingat saya sekarang bekerja di bidang IT. Tapi di sisi lain, saya jadi belajar banyak, dan senang. Alhamdulillah. Selanjutnya tinggal bagaimana caranya supaya bisa lebih produktif. A ha.

Well, this is one of the project moodboard. I noticed some repetitions seperti pola geometrik, polygonal lo-fi, dan… warna. haha. I guess I’m just so in love with teal.

1 / 2 / 3 / 4 / 5 / 6 / 7 / 8 / 9
all images are via pinterest.

Thursday love: in bloom

thursday-moodboard

Mungkin orang lain lebih suka hari Jumat (Thank God its Friday exists for a reason), tapi saya suka hari Kamis–karena itu adalah hari di mana saya akan menyambut Jumat yang lebih saya senangi. Hanya alasan agar saya lebih semangat dalam menjalani minggu, sebenarnya. Sudah lama nggak bikin moodboard karena koneksi sering eror, saya menikmati saat-saat mencari elemen visual yang bagus untuk moodboard ini. The theme for today, maybe, is in bloom. Warna mekar dan sesuatu yang hangat–kayaknya saya butuh warna yang lebih cerah untuk mengisi lemari, nih. Atau mungkin juga karena akhir-akhir ini cukup sering hujan.

Speaking of which, things from this week:

Old friends Beberapa hari ini berhubungan dengan beberapa teman lama. Biasa, karena kebosanan menyerang jadinya menghubungi mereka via facebook dan mengobrol juga. Rasanya senang, ya, karena lama tidak mengobrol. Seringnya sih malas untuk menyapa duluan, tapi ternyata setelah mengobrol toh tetap senang juga. Ada rencana ketemu, tapi tidak sekarang karena akhir bulan (haha). Apa pun itu, mengingat setelah lulus hawa pertemanan rasanya kering, janji untuk bertemu dan mengobrol dengan kawan lama selalu terasa menyenangkan.

Morning routine Ternyata hal ini sangat krusial untuk kesuksesan hari saya. Serius. Bangun telat sedikit and I’d be super grumpy sambil marah-marah ke segala hal yang dekat. Saya memang penggemar bangun pagi, tapi tidak selalu gemar untuk melaksanakan. Setelah perubahan rutinitas, akhirnya saya bisa menetapkan jam bangun pukul empat pagi. Masalahnya, saya masih suka memilih untuk tidur lagi, bukannya langsung bergerak. Padahal kalau sudah bangun lebih dulu, yang untung juga saya, toh. Makanya, saya harus lebih disiplin.

Future plan Topik dengan teman-teman yang seumur biasanya tidak jauh: kalau bukan tentang kerja, ya pasangan. Tentang masa depan yang kayaknya masih blur dan belum terlihat apa-apa. Padahal, dibandingkan mahasiswa baru–kalau saya lihat sekarang–mereka seperti masih mudaaaa sekali (memang lebih muda sih). Tapi ternyata setelah kami mencoba melihat dunia “orang dewasa” dengan benar-benar, ternyata banyak sekali yang harus dipikirkan, ternyata kami masih terlalu hijau untuk apa pun. Masih banyak waktu untuk belajar. Masih boleh untuk melakukan kesalahan, dan berusaha untuk jadi yang terbaik.

Empty weekend Beberapa waktu terakhir akhir minggu saya selalu diisi dengan kegiatan, biasanya bertemu teman. Minggu ini saya belum ada rencana ketemu, selain karena dompet yang sudah menipis. Makanya saya jadi berpikir, minggu ini saya bakal ngapain ya? Yang teringat oleh saya malah membereskan kamar dan pakaian yang baru saja dicuci, lalu membersihkan kamar mandi. Harus seterika dan masak juga. Enaknya masak apa, ya. Oh, saya juga kepingin menulis dan menggambar lagi. Macam anak te-ka.

How’s your week?

1//2//3//4

Second anniversary

happy birthday!

happy birthday!

Akhir Mei 2014 menandai dua tahun saya memiliki blog ini. Wah, time sure flies. Saya pikir tidak banyak yang terjadi selama saya menulis blog ini, karena hidup saya toh sepertinya begitu-begitu saja, namun ternyata banyak juga setelah dirunut. Membaca lagi postingan lama membuat saya jadi ingat seperti apa perasaan saya ketika mengalaminya, dan saya senang membacanya. Ada saat ketika saya sangat sedih sampai kepingin menyerah, ada saat ketika saya senang–hingga mengingatnya jadi tersenyum sendiri. Memiliki jurnal online dirasa menguntungkan ketika sedang merasa begini; semua hal yang kita alami terekam dan jadi memori yang bisa diingat kembali. Tidak semuanya sih, karena sering juga diredam malas. Hahaha.

Sebagai seorang INFP, saya cenderung perfeksionis meskipun dalam pelaksanaannya tidak. Ya, jadi suka stres sendiri, gitu. Memiliki bayangan idealis tentang “seperti apa seharusnya suatu hal berjalan”, tapi karena pada pelaksanaannya harus ada banyak penyesuaian, jadinya malah tidak mau mengerjakan karena tidak sesuai = percuma. Kenyataannya, segala hal selalu mengalami perubahan dan kita tidak dapat mengharapkan sebuah hal berjalan sebagaimana mestinya. Kenapa tiba-tiba saya ngomongin hal ini? Soalnya ini juga terjadi dengan blog saya sendiri.

Dua tahun lalu, saya pindah dari blog sebelumnya ke blog ini karena mau mulai dengan “bersih”. Karena saya punya sebuah ideal tentang bagaimana isi blog saya itu. Call me a geek, but well, when it comes to blogging, semales-malesnya saya ngeblog, I am really a blogging geek. Membaca blog yang membicarakan tentang blog–blogception, saya suka sekali. Mengatur kalender editorial, mencari referensi artikel, menandai hal apa saja yang bisa saya tuliskan, itu sering sekali (dan pada akhirnya hanya menuliskan 20% yang ada di daftar, karena keburu hilang minat).

Tapi ya, kehidupan tidak bisa berjalan sempurna, dan mengisi blog ini juga. Ketika sudah lama tidak diisi, rasanya enek sekali melihat blog ini dan ingin berganti baru; alasannya karena ingin memulai dengan “fresh“, dan saya kembali mengulang lagi kebiasaan perfeksionis-kedodoran saya. URLnya sudah usanglah, templatenya nggak bebaslah, isinya berantakan lah, artikelnya tidak terkurasilah, menyembunyikan aiblah… dan sebagainya. Believe it or not, saya sering merasa ribet sendiri dalam ngurusin blog yang jelas-jelas adalah personal space saya ini. Padahal yang baca juga sedikit (bahkan diragukan), dan siapa juga yang peduli? “Siapa juga yang peduli” bisa jadi bumerang ganda: mau saya berganti url seratus kali, menghapus isinya seratus kali, juga tidak ada yang peduli. Namun saya tidak akan bisa belajar.

Belajar? Ya, belajar. Belajar menghadapi kalau sesuatu memang tidak bisa sempurna, bahwa segala hal adalah suatu proses. Saya tidak dapat memisahkan “kehidupan saya semasa labil” dengan “kehidupan saya semasa kuliah” atau sekarang “kehidupan saya setelah kuliah”. Mereka semua adalah bagian hidup. Tulisan-tulisan di belakang ini adalah bagian yang membentuk saya sekarang, dan seterusnya. Jadi saya tidak boleh meninggalkan mereka dengan alasan “ingin start fresh“. Yang saya butuhkan hanya lebih banyak disiplin untuk menulis, dan InsyaAllah (sepertinya) akan lebih puas dibandingkan membuat blog baru lagi.

Tuh kan, ribet ngomongnya. Padahal ngomongin blog doang. Seriously.

Jadi, dua tahun sudah saya ngeblog di sini, dan tujuh tahun sudah sejak pertama kali saya punya blog. Kalau dihitung, saya selalu punya blog baru setiap dua tahun–pengecualian tahun 2007 karena waktu itu saya masih alay dan coba-coba. Kemarin pun, saya sudah ngasih pembenaran dalam diri “tuh Meg, sudah dua tahun, waktunya pindah.” Tapi sekarang, saya ingin stay di sini, sampai bertahun-tahun ke depan, hopefully. Mari tulis keinginan-keinginan saya untuk blog ini ke depannya:

Menulis lebih rutin, tentu. Saya menemukan bahwa kalau stres saya cenderung berhenti menulis, dan itu membuat saya jatuh dan makin stres lagi. Sampai sekarang, menulis belum berhasil menjadi rutinitas yang saya lakukan setiap hari. Dimulai dengan sebuah jurnal kecil tempat saya wajib menulis apa yang saya alami hari itu, maka saya harap blog ini juga akan makin sering disentuh.

Tulisannya makin jelas. Menulis artikel yang tidak bertele-tele butuh pengetahuan, dan tentu saja, latihan. Selama ini saya selalu punya cita-cita ingin jadi kolumnis–wew, itu semacam impian saya, biarpun tulisan yang pernah dipublikasikan paling banter hanya level majalah sekolah dan forum internet. Tempat ini adalah tempat latihan saya untuk menulis tulisan yang bagus, dan untuk memolesnya, ya harus menulis lebih sering.

Mencari banyak hal baru untuk dituliskan. Kadang saya berpikir “mudah saja untuk mencari bahan tulisan. Tinggal buka google, and voila, you have your world in your hand.” Tapi ketika saya memperhatikan tulisan-tulisan saya, pada akhirnya, yang saya rasa paling bagus adalah yang menceritakan pengalaman sendiri. Tak ada yang bisa menyamai keotentikan pengalaman sendiri dibandingkan dengan hasil pencarian hal seaneh apa pun di google. Makanya, saya juga berharap bisa menemukan hal baru, mengikuti hal baru, atau bahkan mengangkat hal baru dari keseharian untuk dituliskan.

Dan yang harus diingat oleh si pemikir macam saya ini, adalah: lakukan, jangan bergulung dengan pemikiran terus. Pada akhirnya, di usianya yang kedua, saya hanya berharap semoga blog ini bisa lebih banyak diisi dengan tulisan yang bermutu dan meresonansikan seperti apa saya, lebih jujur, dan bermanfaat–mungkin untuk saya di masa depan, untuk keluarga, dan juga orang lain. Karena, apa artinya meninggalkan jejak kalau tidak bermanfaat?

Amin.